Jumat, 24 September 2010

Batik





KERAJINAN BATIK

    A.   Sejarah Ikat Celup


Teknik ikat celup dalam bahasa Afrika adalah adire, dalam bahasa India bandhana, dan dalam bahasa Jepang shibiro. Istilah tersebut sudah digunakan selama berabad-abad untuk menggambarkan cara membuat desain pada kain, yang disebut seni ubar ikat/ikat celup/jumputan/tie dye. Pada proses pembuatan motif ini, kain dijumput pada beberapa bagian tertentu, kemudian diikat dengan karet atau tali lalu di celup. Kain akan menyerap warna kecuali bagian-bagian yang diikat. Dengan demikian terbentuklah pola-pola pada kain. Seni ikat celup/jumputan merupakan salah satu cara untuk mencegah terserapnya zat warna oleh bagian-bagian yang diikat.


          Benua Asia merupakan sumber sejarah dari kebudayaan kain dan tenun di dunia. Salah satunya ialah kain ikat-celup. Dibeberapa negara Asia Timur, seperti; India, Cina, dan Jepang, kain tradisional dengan motif ikat-celup sudah dikenal beberapa abad yang lampau, sebagai kain yang mempunyai makna dan symbol tradisi. Kain dengan teknik ikat-celup diperkirakan berkembang di Cina dan Persia yang dibuktikan oleh adanya jalur sutera dan penggalian kuburan Kerajaan. Pada jaman dinasti Tang, tahun 618-906 M, telah dikenal teknik ikat-celup sebagai bagian dari cara-cara menciptakan ragam hias dan motif di atas permukaan kain. Dari daratan Cina, budaya ikat-celup atau jumputan menyebar ke Jepang sebagai bahan busana. Busana kaftan dan sari yang menjadi pakaian adat di India memerlukan kain-kain berukuran panjang serta warna-warna untuk meningkatkan keindahannya.
Dari beberapa sumber yang diyakini, proses teknik jumputan ternyata merupakan tradisi tertua yang berasal dari Peru yang kemudian menyebar ke Mexico hingga bagian barat daya Amerika Serikat. Hasil penernuan dari bebrapa ilmuwan ternyata teknik ikat-selup asal Peru lebih banyak ragamnya dibanding Asia Timur terutama dari segi material, simbol, serta kualitas kain dan teknik pewarnaannya.
Seni ikat celup berasal dari timur Jauh, diperkirakan sejak 3000 tahun sebelum Masehi, terdapat orang Roma yaitu salah satu bangsa pertama yang mengimpor kain dari daerah Timur. Karena terpesona oleh cara mewarnai kain katun India dan kain sutera halus China. Meskipun teknik ikat celup itu tampaknya rumit, namun lambat laun kemudian teknik ikat celup ini digunakan dan menyebar di negara China dan Peru. Beberapa ahli berpendapat bahwa seni ikat celup ditemukan secara terpisah di berbagai bagian dunia. Di India, china, Jepang, Amerika Selatan, dan Afrika banyak orang desa yang masih mempunyai tempat lingi bak-bak untuk pencelupan, yang besarnya mencapai dua meter persegi yang berisi zat pewarna berwarnawarni. Beberapa kain yang sudah diikat dan dicelup kemudian di bilas di dalam air sungai, kemudian dibentangkan sampai kering. Ada kain yang diikat dan dicelup sampai delapan kali, hal ini tergantung pada rumitnya pola yang ingin dibuat.


B. Ikat Celup/jumputan di Indonesia
Di Indonesia ikat celup ini lebih dikenal dengan istilah jumputan. Kain Jumputan terdapat di daerah Jawa, Bali, Palembang, Kalimantan, dan Toraja. Pembuatan kain dengan teknik ikat celup ini sudah menjadi bagian dari tradisi penduduk setempat, terutama bagi kaum wanita.
Umumnya teknik yang dilakukan di tiap daerah dan negara memiliki kesamaan, yaitu menggunakan alat-alat seperti; tali rafia, jarum, benang, dan zat pewarna. Bahan yang digunakan untuk ikat celup ini antara lain: mori, katun, rayon, sutera, atau sintetis. Pada umumnya motif yang ada pada kain Jumputan berupa gelang, lingkaran-lingkaran kecil, kotak-kotak, geometris, bergelombang, garis lurus dan zigzag.
Di Indonesia kain jumputan ini dapat dipakai untuk cuaca apapun. Penduduk Jawa memakai kain jumputan untuk kemben atau penutup dada atau sebagai pelengkap pakaian penari Jawa. Motif yang dibuat kebanyakan bulat-bulat, dan orang Palembang menyebutnya kain Pelangi yang biasa dipakai sebagai selendang yang terbuat dari bahan sutera. Disebut Pelangi karena kain ini motifnya selalu mempunyai ciri khas titik 7 dan warna warni. Awalnya kain jumputan ini dikenakan kalangan bangsawan di kerajaan Sriwijaya untuk acara-acara tertentu seperti: pernikahan,kelahiran dan upacara siraman. Sedangkan di Kalimantan selatan dikenal dengan kain sasirangan.


C. Teknik Pernbuatan Ikat Celup/jumputan (Tie Dye)
Teknik-Teknik Dasar Pembuatan Mat cellup/ jumputan:
Ada 3 teknik dasar yang dapat dipilih dalam membuat ikat celup/jurnputan, yaitu:
1.    Teknik Lipat, Teknik ikat pada ikat celup dapat dipadukan dengan suatu teknik lipatan yang dapat menghasilkan motif yang diualng-ulang/pengulangan motif tertentu, yaitu dengan cara melipat kain secara memanjang, melebar atau diagonal. Dari lipatan tersebut dapat dibuat irama dengan mengulangi lipatan sebelumnya. Lipatan juga digunakan untuk mengubah arah garis ketika membuat bujur sangkar, garis siku-siku dan desain garis lain. Kalau digunakan tanpa ikatan, maka teknik lipat ini kurang bermanfaat. Tetapi teknik tersebut dapat menciptakan desain yang indah.
2.    Teknik ikat dengan variasi alat balok, teknik ini menghasilkan desain yang tepinya bergaris tegas dengan teknik menggunakan dua balok yang sama besar dan klam berbentuk G. Selipkan kain yang sudah dilipat di antara dua balok, lalu kencangkan klam berbentuk G. Karena zat pewarna tidak dapat tembus meresap ke dalam balok, maka terbentuklah pola berwarna putih sebesar balok. Jangan melipat kain terlalu tebal karena dapat menyebabkan balok meleset dan zat pewarna tidak meresap di tepi luar balok. Periksalah dengan seksama apakah tekanan balok sudah rata agar zat pewarna tak dapat meresap diantara balok.
3.    Teknik Ikat celup dengan setikan, menyetik ikatan pada kain menghabiskan waktu lebih banyak daripada menutup kain dengan tali karet. Tetapi setikan ini memungkinkan terciptanya desain yang lebih rumit dan unik. Apa pun yang dapat dikerjakan dengan tali karet, dapat pula dikerjakan dengan dengan benang dan jarum. Daripada membentuk lipatan sepanjang garis untuk membuat desain garis, misalnya, dapat digunakan juga dengan teknik setik jelujur di sepanjang garis tersebut, kemudian tariklah benangnya untuk menyatukan kain. Kemudian lilitkan benang kuat-kuat di seputar garis lipatan, dan ikatlah dengan baik sebelurn dicelup. Desain-desain lipatan dapat disetik dengan pola simetris, misalnya membuat desain sayap kupu-kupu, jantung, daun atau buah pir, di sepanjang tepi kain yang dilipat. Dengan setik jelujur, ikuti garis ini dan tariklah ujung benang yang bebas untuk menyatukan kain. Ikatlah kain yang akan disatukan itu sebelurn dijelujur.
Untuk menciptakan/membentuk pola sesuai dengan desain yang diinginkan, maka ada beberapa macam Ikatan dan lipatan yang harus diperhatikan seperti gambar di bawah ini. Gambaran menunjukkan cara membuat ikatan dan pola/corak yang dihasilkannya. Anda dapat menciptakan desain, misalnya pola ledakan matahari dan garis. Untuk memahami teknik ini Anda dapat melatihnya pada kain katun bekas.


Macam-Macam Ikatan
1. Ikatan Mawar
Untuk membuat lingkaran, jumputlah kain dan ikatlah bagian dasar jumputan itu dengan tali karet. Garis tengah lingkaran yang terbentuk adalah dua kali .tinggijumputan kain.


2. Ikatan Mawar Berbellit
Untuk membuat pola ledakan matahari, mulailah seperti ikatan mawar. Ikatlah dasarnya, lalu buatlah ikatan spiral menuju puncak jumputan. Dengan tali yang lebih banyak lagi, Anda dapat membentuk pola yang lebih rumit lagi.


3. Ikatan Mawar Ganda (Ikatan Donat)
Untuk membentuk pola lingkaran konsentris,jumputlah kain seperti membuat ikatan mawar. Peganglah bagian puncaknya dengan ibujari danjari telunjuk, kemudian tekan kain diantara keduajari itu ke bawah dan ikatlah.


4. Garis
Untuk membuat pola garis, gunakan kapur dan penggaris. Lipatlah kain menurut garis itu dalam bentuk akordion. Ikatlah kua-kuat pada garis tadi. Untuk membuat beberapa garis, tariklah beberapa garis pedoman. Untuk membuat lajur, ikatan harus berbentuk lajur.


5. Garis ganda
Untuk mengerjakan kain yang ukurannya tidak beraturan, atau untuk menciptakan garis yang tidak teratur, buatlah lipatan dan tekuklah bagian tersebut sebelum diikat


6. Pengerutan
Teknik mengerutkan kain secara tidak teratur dengan satu tangan sementara tangan yang lainnya memegangi berkas kerutan akan menghasilkan pola/ bentuk marmer. Kemudian ikat kuat-kuat pada bagian pangkalnya dengan kuat. Apabila ikatannya kuat maka akan menghasilkan pola/bentuk ceplokan putih. Pada proses pencelupan, celupkan kain dalam panci yang berisi larutan pewarna sampai batas di bawah ikatan. Tuangkan warna tambahan pada bagian atas yang diikat itu, sementara bagian bawah tetap dalam celupan.


7. Penggumpalan
Teknik penggumpalan ini sangat cocok diterapkan untuk mewarnai kain sempitdan berpola sembarangan. Jumputlah kain sampai menjadi gumpalan kernudian ikatlah dengan tali. Makin kuat ikatannya dan makin basah kainnya, makin sedikitlah warna yang akan terserap kain.


8. Mengikat benda
Siapkan benda yang akan diikatkan pada kain, misalnya kelereng yang memiliki ukuran yang sama. Jumputlah kain dan masukkan kelereng ke dalamnya kemudian ikat pada bagian bawahnya dengan ikatan mawar. Ikatan mawar berisi kelereng ini akan menghasilkan pola lingkaran yang sempurna.


Proses pembuatan kain jumputan/ikat cellup (tie dye), yaitu:
1. Sebelum dilakukan pencelupan, sernua kain harus dicuci untuk menghilangkan kanji yang melekat pada kain, karena kanji akan menghmbat/menghalangi penyerapan warna. Oleh karena itu kain harus dihilangkan zat kanjinya supaya mempunyai daya serap terhadap zat warna. Terdapat 3 cara menghilangkan kanji pada kain, yaitu:
a. Pertama dilakukan dengan teknik perendaman, yaitu bahan direndan dalam air selama satu atau dua hari, kemudian dibilas. Cara ini kurang disukai karena selain memakan waktu yang lama ada kemungkinan timbul mikro organisme yang akan merusak kain.
b. Kedua, perendaman dilakukan dengan merendam bahan pada air larutan asam sulfat atau asam khlorida selama satu jam. Pengerjaan bisa dilakukan lebih singkat jika larutan dipanaskan pada suhu 35*C. Kemudian setelah proses perendaman kain dibilas dengan air sehingga bebas dari asam.
c. Ketiga, perendaman dilakukan enzym, yaitu bahan/kain dimasak dalam suatu larutan seperti Rapidase atau Novofermasol misalnya pada suhu 451C selama 30 sampai 45 menit. Setelah kain dimasak, kemudian kain dicuci dalam air panas dua kali masing-masing selama 5 menit. Kemudian bilas kain dengan air dingin sampai kanji luntur dari kain.
2. Persiapkan pewarna/zat warna dan kemudian tuangkan pada panci yang cukup besar. Supayawarn a yang dihasilkan awet, kain yang akan dicelup harus dilembabkan terlebih dahulu. Hal ini sangat penting bagi anda ketika anda menuangkan bahan pewarna langsung pada kain.
3. Sesudah melalui proses pelepasan kanji pada kain tersebut, lalu kain dipotong sesuai dengan kebutuhan untuk dibuat motif sesuai dengan desain yang diinginkan. Setiap pola biasanya dibuat langsung di atas kain. Untuk meperoleh corak d.an warna kain yang khas, pertama-tama pada bahan kain dibuat pola sesuai dengan keinginan.
4. Kemudian kain dijelujur dengan jarak 1-2 mm atau 2-3 mm, kernudian benang ditarik kencang sampai kain menjadi rapat dan meninggalkan bekas kerut-kerut ketika dibuka. Sebagai bahan peng1kat dapat digunakan benang kapas, benang poliester, rafia, benang ban dan lain-lain.
5. Gunakan zat pewarna cair atau zat pewarna bubuk yang dicairkan/dicampur air. Kocoklah dengan baik dan merata, Ialu campurkan air hangat dan zat pewarna untuk mempermudah penyerapan pada kain.
6. Siapkan panci yang ukurannya disesuaikan dengan daya tampung dari banyaknya kain yang akan dicelup. Agar pencelupan merata, maka ukuran panci harus cukup besar untuk menampung kain sehingga kain tidak bertumpang tindih
7. Isilah panci dengan air panas, lalu masukkan zat pewarna berbentuk bubuk yang dicapur dengan cuka berkadar 99% dan direbus dalam air mendidih. Petunjuk yang ada pada kemasan zat pewarna hanya berlaku untuk kain yang direntang rata dan bukan untuk kain yang.diikat-ikat. Zat pewarna yang berwarna gelap lebih mudah dalam proses pewarnaan dengan hasil yang rata. Zat pewarna yang warnanya terang dapat diencerkan dengan air untuk mendapatkan hasil yang merata.
8. Letakkan panci di atas api agar tetap panas selama Proses pencelupan.
9. Masukkan kain yang sudah diikat ke dalam panci yang masih panas, jagalah agar kain tetap di dalam air.
10. Aduklah terus-menerus agar proses pencelupan rata.
11. Lamanya waktu proses pencelupantergantung pada bahan/kain yang digunakan dan ketuaan warna yang dikehendaki. Biasanya perendaman berlangsung selama 30-60 menit. Apabila anda akan akan mencelup kain asetat yang akan mengerut ketika dimasukkan ke dalam larutan zat pewarna yang terlalu panas, makajagalah agar suhunya agak rendah tetapi panasilah lebih lama dari kain biasa.
12. Setelah direndarn selama waktu yang diperlukan, keluarkan kain dari panci
13. KemudianTanpa melepaskan tali, penjepit, atau pengikat lainnya, kain melalui proses pelunturan, yaitu pencucian kain itu ke dalam air dingin yang mengalir sampai semua sisa pewarna hilang. Jika air sudah bersih maka zat-pewarna tidak akan melunturi kain lain.
14. Lepaskan semua pengikat satu demi satu dan bilaslah kain sekali lagi sampai air yang mengalirjernih.
15. Jemurlah kain agar kering, tetapijangan sampai terkena sinar matahari langsung.
16. Letakkan lembaran plastik dibawahnya agar kain tidak kotor.


Proses Pewarnaan
Pada proses pencelupan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengaturan warna, antara lain:
1.    Warna kain yang akan dicelupakan mempengaruhi hasil desain/pola. Semakin terang warna kain yang dipakai, maka makin banyak warna yang dapat disusun pada kain tersebut.
2.    Untuk percobaan pertama, gunakanlah zat pewarna yang biasa digunakan di rumah serta kain yang warnanya sesuai dengan warna dari zat pewarna untuk pencelupan.
3.    Kalaumenggunakanwarnalebihdarisatu,mulailah dengan warna yang paling terang terlebih dahulu dan akhirilah dengan warna yang paling gelap, kecuali ada petunjuk khusus.
4.    Warna gelap yang ditumpangkan pada warna terang akan menghasilkan warna baru, sedangkan warna terang yang ditumpangkan pada warna gelap cenderung hilang.
5.    Untuk menghemat zat pewarna, gunakan tiga warna dasar, misalnya merahjambu, kuning dan biru. Campuran zat pewarna merah merah jambu dan biru menghasilkan warna ungu, campuran merah jambu dan kuning menghasilkan jingga, dan campuran kuning dan biru menghasilkan warna hijau.
6.    Untuk memudakan warna gelap seperti biru dan coklat,jangan merendam kain di dalam larutan zat pewarna terlalU lama atau rendamlah dalam larutan zat pewarna yang encer. Untuk menghasilkan warna yang lebih tua maka rendamlah kain pada, larutan zat pewarna yang lebih pekat dengan waktu yang lebih lama.
7.    Kalau kain sudah kering maka warna akan kelihatan lebih muda. Sebelum melepaskan ikatan pada kain, setrikalah tepi kain itu sampai kering. Jika warnanyaterlalu muda, masukkan iagi kain itu kedalam larutan zat pewarna, dan tambahkan zat pewarna untuk mengentalkan campuran. (Tetapi jangan sekahkali menambahkan zat pewarna sewaktu kain berada dalam panci).
8.    Jika warna yang dihasilkan terlalu tua, maka panaskan seketel airjernih, masukkan deterjen satu sendok teh, dan panaskan kain di dalam air itu sampai air berubah warna.
9.    Untuk merubah warna sewaktu proses berlangsung, masukkan kain yang masih terikat ke dalam air panas yang mengandung zat penghapus warna. Zat tersebut dapat dibeli di toko. Jangan menggunakan bahan untuk mengelantang.
10. Cucilah kain dalam air hangat dan bersabun, kemudian celup ke dalam larutan zat pewarna dengan warna yang dikehendaki tanpa melepaskan ikatannya.
11. Untuk para pemula disarankan menggunakan zat pewarna yang biasa dipakai di rumah. Zat pewarna ini aman dan mudah digunakan untuk hampir segala macam kain kecuali akrilik orlon, beberapa poliester dan akrilik lain. Zat pewarna yang biasa dipakai di rumah menghasilkan warna paling terang pada katun, lalu semakin melemah pada sutera, nilon, rayon, asetat dan wol. Satu pak zat pewarna dapat digunakan untuk memberi warna pada kain seberat 450 gram (kira-kira 3 m).


Alat dan Bahan untuk Membuat Ikat Celup
PERALATAN dan bahan-bahan yang diperlukan pada proses pembuatan ikat-celup (tie dye): Deterjen cair; tali karet atau tali berlilin yang dapat dibeli di toko serba ada; botol pencet, zat pewarna bubuk atau cair yang warnanya disesuaikan dengan selera; karet busa; sarung tangan karet; setretika; kain yang akan dicelup; panci besar; apabila air yang digunakan mengandung logam maka harus menggunakan bahan pelunak air. Kain yang sebaiknya dipilih adalah kain muslin yang tidak dikelantang, rayon, nilon, asetat, beludru rayon, viscose rayon, linen, dan katun.


Pemeliharaan Berbagai Benda yang
Menggunakan Ikat Celup
1.     Cara mencuci kain dari ikat celup yaitu, dengan memasukkannya ke dalam air suam-suam kuku yang telah diberi bubuk deterjen/sabun yang netral, sebanyak 3-5 gram untuk satu liter air. Kemudian sampai air sabunnya hilang. Setelah itu, bilas dengan air suam-suam kuku yang telah dicampur dengan sedikit cuka supaya warnanya tidak luntur dan lebih hidup atau cerah.
2.     Tidak boleh dicuci menggunakan mesin cuci dan dipiuh untuk mengeluarkan airnya.
3.     Jemur dengan cara dibalik bagian buruk di luar dan digantung menggunakan honger lalu,jemurdi tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung atau tempat teduh.
4.     Proses penyetrikaan sebaiknya dilakukan dalam kondisi kain masih lembab (setengah kering) dengan air panas yang sedang. Sebelum disetrika di atas kain, lapisi kain dengan kain yang tipis dan lembab.





....DownloadBatik Ikat Celup_Jumputan

0 komentar: