Jumat, 24 September 2010

Batik





KERAJINAN BATIK

    A.   Sejarah Ikat Celup


Teknik ikat celup dalam bahasa Afrika adalah adire, dalam bahasa India bandhana, dan dalam bahasa Jepang shibiro. Istilah tersebut sudah digunakan selama berabad-abad untuk menggambarkan cara membuat desain pada kain, yang disebut seni ubar ikat/ikat celup/jumputan/tie dye. Pada proses pembuatan motif ini, kain dijumput pada beberapa bagian tertentu, kemudian diikat dengan karet atau tali lalu di celup. Kain akan menyerap warna kecuali bagian-bagian yang diikat. Dengan demikian terbentuklah pola-pola pada kain. Seni ikat celup/jumputan merupakan salah satu cara untuk mencegah terserapnya zat warna oleh bagian-bagian yang diikat.


          Benua Asia merupakan sumber sejarah dari kebudayaan kain dan tenun di dunia. Salah satunya ialah kain ikat-celup. Dibeberapa negara Asia Timur, seperti; India, Cina, dan Jepang, kain tradisional dengan motif ikat-celup sudah dikenal beberapa abad yang lampau, sebagai kain yang mempunyai makna dan symbol tradisi. Kain dengan teknik ikat-celup diperkirakan berkembang di Cina dan Persia yang dibuktikan oleh adanya jalur sutera dan penggalian kuburan Kerajaan. Pada jaman dinasti Tang, tahun 618-906 M, telah dikenal teknik ikat-celup sebagai bagian dari cara-cara menciptakan ragam hias dan motif di atas permukaan kain. Dari daratan Cina, budaya ikat-celup atau jumputan menyebar ke Jepang sebagai bahan busana. Busana kaftan dan sari yang menjadi pakaian adat di India memerlukan kain-kain berukuran panjang serta warna-warna untuk meningkatkan keindahannya.
Dari beberapa sumber yang diyakini, proses teknik jumputan ternyata merupakan tradisi tertua yang berasal dari Peru yang kemudian menyebar ke Mexico hingga bagian barat daya Amerika Serikat. Hasil penernuan dari bebrapa ilmuwan ternyata teknik ikat-selup asal Peru lebih banyak ragamnya dibanding Asia Timur terutama dari segi material, simbol, serta kualitas kain dan teknik pewarnaannya.
Seni ikat celup berasal dari timur Jauh, diperkirakan sejak 3000 tahun sebelum Masehi, terdapat orang Roma yaitu salah satu bangsa pertama yang mengimpor kain dari daerah Timur. Karena terpesona oleh cara mewarnai kain katun India dan kain sutera halus China. Meskipun teknik ikat celup itu tampaknya rumit, namun lambat laun kemudian teknik ikat celup ini digunakan dan menyebar di negara China dan Peru. Beberapa ahli berpendapat bahwa seni ikat celup ditemukan secara terpisah di berbagai bagian dunia. Di India, china, Jepang, Amerika Selatan, dan Afrika banyak orang desa yang masih mempunyai tempat lingi bak-bak untuk pencelupan, yang besarnya mencapai dua meter persegi yang berisi zat pewarna berwarnawarni. Beberapa kain yang sudah diikat dan dicelup kemudian di bilas di dalam air sungai, kemudian dibentangkan sampai kering. Ada kain yang diikat dan dicelup sampai delapan kali, hal ini tergantung pada rumitnya pola yang ingin dibuat.


B. Ikat Celup/jumputan di Indonesia
Di Indonesia ikat celup ini lebih dikenal dengan istilah jumputan. Kain Jumputan terdapat di daerah Jawa, Bali, Palembang, Kalimantan, dan Toraja. Pembuatan kain dengan teknik ikat celup ini sudah menjadi bagian dari tradisi penduduk setempat, terutama bagi kaum wanita.
Umumnya teknik yang dilakukan di tiap daerah dan negara memiliki kesamaan, yaitu menggunakan alat-alat seperti; tali rafia, jarum, benang, dan zat pewarna. Bahan yang digunakan untuk ikat celup ini antara lain: mori, katun, rayon, sutera, atau sintetis. Pada umumnya motif yang ada pada kain Jumputan berupa gelang, lingkaran-lingkaran kecil, kotak-kotak, geometris, bergelombang, garis lurus dan zigzag.
Di Indonesia kain jumputan ini dapat dipakai untuk cuaca apapun. Penduduk Jawa memakai kain jumputan untuk kemben atau penutup dada atau sebagai pelengkap pakaian penari Jawa. Motif yang dibuat kebanyakan bulat-bulat, dan orang Palembang menyebutnya kain Pelangi yang biasa dipakai sebagai selendang yang terbuat dari bahan sutera. Disebut Pelangi karena kain ini motifnya selalu mempunyai ciri khas titik 7 dan warna warni. Awalnya kain jumputan ini dikenakan kalangan bangsawan di kerajaan Sriwijaya untuk acara-acara tertentu seperti: pernikahan,kelahiran dan upacara siraman. Sedangkan di Kalimantan selatan dikenal dengan kain sasirangan.


C. Teknik Pernbuatan Ikat Celup/jumputan (Tie Dye)
Teknik-Teknik Dasar Pembuatan Mat cellup/ jumputan:
Ada 3 teknik dasar yang dapat dipilih dalam membuat ikat celup/jurnputan, yaitu:
1.    Teknik Lipat, Teknik ikat pada ikat celup dapat dipadukan dengan suatu teknik lipatan yang dapat menghasilkan motif yang diualng-ulang/pengulangan motif tertentu, yaitu dengan cara melipat kain secara memanjang, melebar atau diagonal. Dari lipatan tersebut dapat dibuat irama dengan mengulangi lipatan sebelumnya. Lipatan juga digunakan untuk mengubah arah garis ketika membuat bujur sangkar, garis siku-siku dan desain garis lain. Kalau digunakan tanpa ikatan, maka teknik lipat ini kurang bermanfaat. Tetapi teknik tersebut dapat menciptakan desain yang indah.
2.    Teknik ikat dengan variasi alat balok, teknik ini menghasilkan desain yang tepinya bergaris tegas dengan teknik menggunakan dua balok yang sama besar dan klam berbentuk G. Selipkan kain yang sudah dilipat di antara dua balok, lalu kencangkan klam berbentuk G. Karena zat pewarna tidak dapat tembus meresap ke dalam balok, maka terbentuklah pola berwarna putih sebesar balok. Jangan melipat kain terlalu tebal karena dapat menyebabkan balok meleset dan zat pewarna tidak meresap di tepi luar balok. Periksalah dengan seksama apakah tekanan balok sudah rata agar zat pewarna tak dapat meresap diantara balok.
3.    Teknik Ikat celup dengan setikan, menyetik ikatan pada kain menghabiskan waktu lebih banyak daripada menutup kain dengan tali karet. Tetapi setikan ini memungkinkan terciptanya desain yang lebih rumit dan unik. Apa pun yang dapat dikerjakan dengan tali karet, dapat pula dikerjakan dengan dengan benang dan jarum. Daripada membentuk lipatan sepanjang garis untuk membuat desain garis, misalnya, dapat digunakan juga dengan teknik setik jelujur di sepanjang garis tersebut, kemudian tariklah benangnya untuk menyatukan kain. Kemudian lilitkan benang kuat-kuat di seputar garis lipatan, dan ikatlah dengan baik sebelurn dicelup. Desain-desain lipatan dapat disetik dengan pola simetris, misalnya membuat desain sayap kupu-kupu, jantung, daun atau buah pir, di sepanjang tepi kain yang dilipat. Dengan setik jelujur, ikuti garis ini dan tariklah ujung benang yang bebas untuk menyatukan kain. Ikatlah kain yang akan disatukan itu sebelurn dijelujur.
Untuk menciptakan/membentuk pola sesuai dengan desain yang diinginkan, maka ada beberapa macam Ikatan dan lipatan yang harus diperhatikan seperti gambar di bawah ini. Gambaran menunjukkan cara membuat ikatan dan pola/corak yang dihasilkannya. Anda dapat menciptakan desain, misalnya pola ledakan matahari dan garis. Untuk memahami teknik ini Anda dapat melatihnya pada kain katun bekas.


Macam-Macam Ikatan
1. Ikatan Mawar
Untuk membuat lingkaran, jumputlah kain dan ikatlah bagian dasar jumputan itu dengan tali karet. Garis tengah lingkaran yang terbentuk adalah dua kali .tinggijumputan kain.


2. Ikatan Mawar Berbellit
Untuk membuat pola ledakan matahari, mulailah seperti ikatan mawar. Ikatlah dasarnya, lalu buatlah ikatan spiral menuju puncak jumputan. Dengan tali yang lebih banyak lagi, Anda dapat membentuk pola yang lebih rumit lagi.


3. Ikatan Mawar Ganda (Ikatan Donat)
Untuk membentuk pola lingkaran konsentris,jumputlah kain seperti membuat ikatan mawar. Peganglah bagian puncaknya dengan ibujari danjari telunjuk, kemudian tekan kain diantara keduajari itu ke bawah dan ikatlah.


4. Garis
Untuk membuat pola garis, gunakan kapur dan penggaris. Lipatlah kain menurut garis itu dalam bentuk akordion. Ikatlah kua-kuat pada garis tadi. Untuk membuat beberapa garis, tariklah beberapa garis pedoman. Untuk membuat lajur, ikatan harus berbentuk lajur.


5. Garis ganda
Untuk mengerjakan kain yang ukurannya tidak beraturan, atau untuk menciptakan garis yang tidak teratur, buatlah lipatan dan tekuklah bagian tersebut sebelum diikat


6. Pengerutan
Teknik mengerutkan kain secara tidak teratur dengan satu tangan sementara tangan yang lainnya memegangi berkas kerutan akan menghasilkan pola/ bentuk marmer. Kemudian ikat kuat-kuat pada bagian pangkalnya dengan kuat. Apabila ikatannya kuat maka akan menghasilkan pola/bentuk ceplokan putih. Pada proses pencelupan, celupkan kain dalam panci yang berisi larutan pewarna sampai batas di bawah ikatan. Tuangkan warna tambahan pada bagian atas yang diikat itu, sementara bagian bawah tetap dalam celupan.


7. Penggumpalan
Teknik penggumpalan ini sangat cocok diterapkan untuk mewarnai kain sempitdan berpola sembarangan. Jumputlah kain sampai menjadi gumpalan kernudian ikatlah dengan tali. Makin kuat ikatannya dan makin basah kainnya, makin sedikitlah warna yang akan terserap kain.


8. Mengikat benda
Siapkan benda yang akan diikatkan pada kain, misalnya kelereng yang memiliki ukuran yang sama. Jumputlah kain dan masukkan kelereng ke dalamnya kemudian ikat pada bagian bawahnya dengan ikatan mawar. Ikatan mawar berisi kelereng ini akan menghasilkan pola lingkaran yang sempurna.


Proses pembuatan kain jumputan/ikat cellup (tie dye), yaitu:
1. Sebelum dilakukan pencelupan, sernua kain harus dicuci untuk menghilangkan kanji yang melekat pada kain, karena kanji akan menghmbat/menghalangi penyerapan warna. Oleh karena itu kain harus dihilangkan zat kanjinya supaya mempunyai daya serap terhadap zat warna. Terdapat 3 cara menghilangkan kanji pada kain, yaitu:
a. Pertama dilakukan dengan teknik perendaman, yaitu bahan direndan dalam air selama satu atau dua hari, kemudian dibilas. Cara ini kurang disukai karena selain memakan waktu yang lama ada kemungkinan timbul mikro organisme yang akan merusak kain.
b. Kedua, perendaman dilakukan dengan merendam bahan pada air larutan asam sulfat atau asam khlorida selama satu jam. Pengerjaan bisa dilakukan lebih singkat jika larutan dipanaskan pada suhu 35*C. Kemudian setelah proses perendaman kain dibilas dengan air sehingga bebas dari asam.
c. Ketiga, perendaman dilakukan enzym, yaitu bahan/kain dimasak dalam suatu larutan seperti Rapidase atau Novofermasol misalnya pada suhu 451C selama 30 sampai 45 menit. Setelah kain dimasak, kemudian kain dicuci dalam air panas dua kali masing-masing selama 5 menit. Kemudian bilas kain dengan air dingin sampai kanji luntur dari kain.
2. Persiapkan pewarna/zat warna dan kemudian tuangkan pada panci yang cukup besar. Supayawarn a yang dihasilkan awet, kain yang akan dicelup harus dilembabkan terlebih dahulu. Hal ini sangat penting bagi anda ketika anda menuangkan bahan pewarna langsung pada kain.
3. Sesudah melalui proses pelepasan kanji pada kain tersebut, lalu kain dipotong sesuai dengan kebutuhan untuk dibuat motif sesuai dengan desain yang diinginkan. Setiap pola biasanya dibuat langsung di atas kain. Untuk meperoleh corak d.an warna kain yang khas, pertama-tama pada bahan kain dibuat pola sesuai dengan keinginan.
4. Kemudian kain dijelujur dengan jarak 1-2 mm atau 2-3 mm, kernudian benang ditarik kencang sampai kain menjadi rapat dan meninggalkan bekas kerut-kerut ketika dibuka. Sebagai bahan peng1kat dapat digunakan benang kapas, benang poliester, rafia, benang ban dan lain-lain.
5. Gunakan zat pewarna cair atau zat pewarna bubuk yang dicairkan/dicampur air. Kocoklah dengan baik dan merata, Ialu campurkan air hangat dan zat pewarna untuk mempermudah penyerapan pada kain.
6. Siapkan panci yang ukurannya disesuaikan dengan daya tampung dari banyaknya kain yang akan dicelup. Agar pencelupan merata, maka ukuran panci harus cukup besar untuk menampung kain sehingga kain tidak bertumpang tindih
7. Isilah panci dengan air panas, lalu masukkan zat pewarna berbentuk bubuk yang dicapur dengan cuka berkadar 99% dan direbus dalam air mendidih. Petunjuk yang ada pada kemasan zat pewarna hanya berlaku untuk kain yang direntang rata dan bukan untuk kain yang.diikat-ikat. Zat pewarna yang berwarna gelap lebih mudah dalam proses pewarnaan dengan hasil yang rata. Zat pewarna yang warnanya terang dapat diencerkan dengan air untuk mendapatkan hasil yang merata.
8. Letakkan panci di atas api agar tetap panas selama Proses pencelupan.
9. Masukkan kain yang sudah diikat ke dalam panci yang masih panas, jagalah agar kain tetap di dalam air.
10. Aduklah terus-menerus agar proses pencelupan rata.
11. Lamanya waktu proses pencelupantergantung pada bahan/kain yang digunakan dan ketuaan warna yang dikehendaki. Biasanya perendaman berlangsung selama 30-60 menit. Apabila anda akan akan mencelup kain asetat yang akan mengerut ketika dimasukkan ke dalam larutan zat pewarna yang terlalu panas, makajagalah agar suhunya agak rendah tetapi panasilah lebih lama dari kain biasa.
12. Setelah direndarn selama waktu yang diperlukan, keluarkan kain dari panci
13. KemudianTanpa melepaskan tali, penjepit, atau pengikat lainnya, kain melalui proses pelunturan, yaitu pencucian kain itu ke dalam air dingin yang mengalir sampai semua sisa pewarna hilang. Jika air sudah bersih maka zat-pewarna tidak akan melunturi kain lain.
14. Lepaskan semua pengikat satu demi satu dan bilaslah kain sekali lagi sampai air yang mengalirjernih.
15. Jemurlah kain agar kering, tetapijangan sampai terkena sinar matahari langsung.
16. Letakkan lembaran plastik dibawahnya agar kain tidak kotor.


Proses Pewarnaan
Pada proses pencelupan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengaturan warna, antara lain:
1.    Warna kain yang akan dicelupakan mempengaruhi hasil desain/pola. Semakin terang warna kain yang dipakai, maka makin banyak warna yang dapat disusun pada kain tersebut.
2.    Untuk percobaan pertama, gunakanlah zat pewarna yang biasa digunakan di rumah serta kain yang warnanya sesuai dengan warna dari zat pewarna untuk pencelupan.
3.    Kalaumenggunakanwarnalebihdarisatu,mulailah dengan warna yang paling terang terlebih dahulu dan akhirilah dengan warna yang paling gelap, kecuali ada petunjuk khusus.
4.    Warna gelap yang ditumpangkan pada warna terang akan menghasilkan warna baru, sedangkan warna terang yang ditumpangkan pada warna gelap cenderung hilang.
5.    Untuk menghemat zat pewarna, gunakan tiga warna dasar, misalnya merahjambu, kuning dan biru. Campuran zat pewarna merah merah jambu dan biru menghasilkan warna ungu, campuran merah jambu dan kuning menghasilkan jingga, dan campuran kuning dan biru menghasilkan warna hijau.
6.    Untuk memudakan warna gelap seperti biru dan coklat,jangan merendam kain di dalam larutan zat pewarna terlalU lama atau rendamlah dalam larutan zat pewarna yang encer. Untuk menghasilkan warna yang lebih tua maka rendamlah kain pada, larutan zat pewarna yang lebih pekat dengan waktu yang lebih lama.
7.    Kalau kain sudah kering maka warna akan kelihatan lebih muda. Sebelum melepaskan ikatan pada kain, setrikalah tepi kain itu sampai kering. Jika warnanyaterlalu muda, masukkan iagi kain itu kedalam larutan zat pewarna, dan tambahkan zat pewarna untuk mengentalkan campuran. (Tetapi jangan sekahkali menambahkan zat pewarna sewaktu kain berada dalam panci).
8.    Jika warna yang dihasilkan terlalu tua, maka panaskan seketel airjernih, masukkan deterjen satu sendok teh, dan panaskan kain di dalam air itu sampai air berubah warna.
9.    Untuk merubah warna sewaktu proses berlangsung, masukkan kain yang masih terikat ke dalam air panas yang mengandung zat penghapus warna. Zat tersebut dapat dibeli di toko. Jangan menggunakan bahan untuk mengelantang.
10. Cucilah kain dalam air hangat dan bersabun, kemudian celup ke dalam larutan zat pewarna dengan warna yang dikehendaki tanpa melepaskan ikatannya.
11. Untuk para pemula disarankan menggunakan zat pewarna yang biasa dipakai di rumah. Zat pewarna ini aman dan mudah digunakan untuk hampir segala macam kain kecuali akrilik orlon, beberapa poliester dan akrilik lain. Zat pewarna yang biasa dipakai di rumah menghasilkan warna paling terang pada katun, lalu semakin melemah pada sutera, nilon, rayon, asetat dan wol. Satu pak zat pewarna dapat digunakan untuk memberi warna pada kain seberat 450 gram (kira-kira 3 m).


Alat dan Bahan untuk Membuat Ikat Celup
PERALATAN dan bahan-bahan yang diperlukan pada proses pembuatan ikat-celup (tie dye): Deterjen cair; tali karet atau tali berlilin yang dapat dibeli di toko serba ada; botol pencet, zat pewarna bubuk atau cair yang warnanya disesuaikan dengan selera; karet busa; sarung tangan karet; setretika; kain yang akan dicelup; panci besar; apabila air yang digunakan mengandung logam maka harus menggunakan bahan pelunak air. Kain yang sebaiknya dipilih adalah kain muslin yang tidak dikelantang, rayon, nilon, asetat, beludru rayon, viscose rayon, linen, dan katun.


Pemeliharaan Berbagai Benda yang
Menggunakan Ikat Celup
1.     Cara mencuci kain dari ikat celup yaitu, dengan memasukkannya ke dalam air suam-suam kuku yang telah diberi bubuk deterjen/sabun yang netral, sebanyak 3-5 gram untuk satu liter air. Kemudian sampai air sabunnya hilang. Setelah itu, bilas dengan air suam-suam kuku yang telah dicampur dengan sedikit cuka supaya warnanya tidak luntur dan lebih hidup atau cerah.
2.     Tidak boleh dicuci menggunakan mesin cuci dan dipiuh untuk mengeluarkan airnya.
3.     Jemur dengan cara dibalik bagian buruk di luar dan digantung menggunakan honger lalu,jemurdi tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung atau tempat teduh.
4.     Proses penyetrikaan sebaiknya dilakukan dalam kondisi kain masih lembab (setengah kering) dengan air panas yang sedang. Sebelum disetrika di atas kain, lapisi kain dengan kain yang tipis dan lembab.





....DownloadBatik Ikat Celup_Jumputan

Senin, 01 Maret 2010

Kreasi Daun Mangga


KERAJINAN DARI DAUN MANGGA
(Membuat benda Kerajinan dari bahan limbah organic)

Limbah atau bahan sisa yang dibuang menjadi sampah yang seakan tak berguna, bahkan kalau dibiarkan akan terus bertambah sejalan dengan banyaknya masyarakat yang membuang sampah. Akibatnya pemukiman menjadi kurang nyaman, timbul berbagai penyakit, dan sampah yang menggunung dapat menyumbat saluran pembuanyan air sehingga terjadi banjir. Setiap tahun permasalahan tentang sampah terus bertambah. Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi timbunan sampah yang semakin lama semakin banyak sampah yang sulit dihancurkan oleh bakteri pengurai dalam tanah. Peran serta tangan manusia untuk mengurangi timbunan sampah, mempercepat penguraian sampah menjadi sangat mendesak.
Pemulung memiliki peranan mengurangi timbunan sampah. Lebih manusiawi bila masyarakat memiliki kesadaran cara membuang sampah yang baik dan benar. Sehingga memungkinkan pemngelolaan limbah/ sampah yang lebih mudah. Mesin pengolah limbah sangat diperlukan untuk mengurangi tumpukan sampah. Kebiasaan masyarakat membuang sampah tanpa mengelompokkan sampah agar mudah pengolahannya masih sangat rendah. Menyikapi hal tersebut pemerintah menggalakkan gerakan 3 R (Menggunakan yang masih dapat digunakan lagi / Re Use, Mendaur ulang yang dapat didaur ulang/Re Cycle, Serta melakukan penghematan sumber energi dan menghancurkan limbah yang sudah tidak dapat digunakan dan didaur ulang agar cepat dapat diuraikan bakteri pengurai dalam tanah/Re Duce). Dari program yang dicanangkan pemerintah tersebut perlu ditambah lagi yaitu memanfaatkan limbah untuk kegunaan lain yang lebih bermanfaat dan mendatangkan nilai ekonomi dari sekedar Reuse atau Re Cycle, misalnya menggunakan bahan baku limbah untuk menghasilkan karya kreatif dan unik.
Menggunakan limbah sebagai bahan baku benda kreatif dan unik memang tidak mudah, tetapi yang lebih diperlukan adalah ketekunan dan ketelatenan. Pengetahuan karakteristik limbah sangat penting. Pemanfaatan limbah organik dan limbah unorganik memiliki cara yang berbeda. Limbah organik atau limbah yang dapat diuraikan oleh bakteri pengurai dalam tanah dalam waktu yang tidak terlalu lama. Limbah organik banyak yang berasal dari alam langsung misal daun-daunan, kayu, dan lain-lain. Limbah unorganik merupakan limbah bukan alami yang umumnya produk pabrikan yang dalam pengolahannya menggunakan teknologi tinggi serta menggunakan bahan kimia yang sulit diuraikan oleh bakteri pengurai dalam tanah. Limbah organik dalam volume kecil tidak akan terlalu merisaukan, namun bila jumlahnya besar perlu mendapat perhatian. Limbah unorganik perlu mendapat perhatian lebih besar. Disinilah peranan orang-orang kreatif agar limbah yang tadinya tak berguna dan menggangu kenyamanan hidup berubah menjadi barang yang bernilai seni dan membuat hidup menjadi nyaman.
Sedikit pengetahuan tentang seni diperlukan untuk mengolah limbah agar menjadi karya yang bernilai. Pengetahuan seni tidak terbatas pada pendidikan seni dibangku sekolah namun juga dari proses apresiasi seni yang telah ada sebelumnya. Untuk menjadi kreatif seseorang perlu memiliki sifat ingin tahu dan ingin mencoba yang tinggi, sehingga mampu menghasilkan ide-ide yang selalu berbeda dari sebelumnya

Seni Rupa Murni
Seni rupa murni/ seni murni merupakan karya seni rupa yang dibuat sebagai media ekspresi cita rasa seni seniman pembuatnya. Sebagai media ekspresi seni rupa murni tidak terkait fungsi atau kegunaan karya yang akan/telah tercipta atau dapat dikatakan bahwa seni rupa murni memiliki tingkat kebebasan ekspresi yang luas baik dari seni gagasan, teknik pembuatan maupun bahan yang harus digunakan. Gagasan seni murni tidak selalu menyerupai figure tertentu tetapi juga sering tanpa adanya figure yang jelas. Karya seni murni yang menampakkan suatu figure tertentu disebut seni figurative, sedangkan seni rupa murni yang tidak menyerupai figure tertentu disebut seni non figurative(abstrak).

Seni terapan : karya seni rupa dapat diterapkan atau dipakai/digunakan. Dengan kata lain, seni rupa terapan yang dimaksud adalah seni rupa yang memiliki fungsi tertentu. Seni rupa terapan meliputi semua karya seni rupa yang memiliki fungsi/kegunaan tertentu dalam kehidupan manusia seperti contoh di atas. Seni kriya: termasuk karya seni rupa terapan, karena hampir semua hasil karya seni kriya memiliki nilai kegunaan tertentu atau dapat diterapkan dalam kehidupan manusia. Sebutan lain seni kriya ialah seni kerajinan.
Kriya = pekerjaan tangan atau kerajinan tangan (handy craft). Seni kriya ialah seni rupa yang tercipta dengan membutuhkan kemampuan kekriyaan (Craftmanship). Kemampuan kekriyaan ialah keahlian, kecakapan dan keterampilan yang tinggi dalam pertukangan/pengrajin. Sebutan ini memiliki pengertian yang lebih luas daripada seni kerajinan.
Seni kerajinan yaitu seni rupa yang berupa barang-barang dengan mengutamakan kerajinan, kerapian, kecermatan, dan bemilai seni. Seni kerajinan seni kriya merupakan cabang seni rupa penghasil sebagian besar barang-barang pakai. Hasil karya seni kriya menurut bahan dan teknik pembuatannya dibedakan meliputi antara lain:
1 . Kerajinan kayu:
a. Bahan : kayu, rotan, bambu
b. Teknik : Teknik kerja bangku/manual, ukir/pahat, scroll, bubut, anyam, teknik kerja mesin, dan CNC (Computer Numerically Controll)
b. Produk : Mebelair, Relief,mainan, peralatan rumah tangga, souvenir,dan lain-lain.
2. Kerajinan logam:
a. Bahan : emas, perak, tembaga, aluminium, perunggu, besi, seng, kuningan, dan lain-lain.
b. Teknik : Teknik potong tekuk, las, patri keras, patri lunak, ukir, cor/cetak, etsa, bubut, CNC.
c. Produk : perhiasan, alat-alat rumah tangga, perkakas pertukangan, alat-alat/bahan bangunan, dan sebagainya.
3. Kerajinan Kulit
a. Bahan : Kulit mentah, kulit tersamak, kulit sintetis,serta kulit pohon atau dari bagian dari pohon yang memerlukan perlakuan seperti kulit missal pelepah pisang, pelepah pinang, serta daun-daunan.
b. Teknik : Potong dan rekat, jahit manual dan masinal, anyam, emboss, pahat, dll
c. Produk : barang-barang mebelair, perlengkapan bangunan, alat-alat rumah tangga, souvemir, dll.
4. Kerajinan tenun/tekstil:
a. Bahan : kain, benang, serta bahan alami yang memerlukan perlakuan seperti kain atau benang.
b. Teknik : Teknik Jahit, batik, sablon, macramé, tenun, rajut, sulam,bordir, smock dan lain-lain
c. Produk : tenunan kain,taplak meja, syal, tas, kaos, sarung, dan lain-lain
5. Kerajinan tanah Liat (keramik):
a. Bahan : tanah liat, bahan pewarna, glazuur.
b. Teknik : Pijit, pilin/coil, Slab/lempeng, cetak tekan, cetak tuang, putar manual dan mesin
c. Produk : alat-alat rumah tangga, bahan bangunan, gerabah, souvenir, dan sebagainya,

Dari uraian diatas dapat disimpulkan pemanfaatan daun mangga sebagai bahan kerajinan termasuk dalam kelompok kerajinan kulit. Berikut cara pemanfaatan salah satu limbah organik yaitu daun mangga.

Bahan dan Alat Kerajinan daun Mangga

Daun mangga

Sebaiknya memilih daun mangga yang berjatuhan di tanah, mulai dari yang berwarna kuning sampai cokelat yang benar-benar kering. Ukuran daun disesuaikan kebutuhan Anda. Daun yang masih berwarna hijau juga bisa digunakan, hanya membutuhkan waktu lebih lama ketika perebusan (dikarenakan di dalamnya masih banyak ternyimpan zat hijau daun). Sebaiknya dibiarkan dulu sampai daun berwarna cokelat.

Kompor

Digunakan untuk memasak atau merebus daun-daun kering yang telah dipilih dan siap diolah.

Baskom/ember plastilk
Digunakan sebagai wadah untuk merendarn daun-daun kering pada waktu pernbersihan dan permutihan.

Panci
Sebaiknya pilih yang terbuat dari baja tahan karat (stainless steel) atau panci besi yang berlapis cat. Panci yang terbuat dari alumunium akan terkikis oleh larutan soda api pada saat pemasakan.

Gayung air
Perlengkapan mandi ini dipakai untuk menakar banyaknya air yang dibutuhkan dan sebagai perbandingan dengan bahan kimia yang akan dicampurkan.

Pengaduk/sendok makan

Selain sebagai pengaduk,juga digunakan untuk menakar bahan kimia (seperti kaporit dan soda api saat dilarutkan ke dalam air). Gunakan sendok yang terbuat dari baja tahan karat (stainless steel).

Peralatan jahit

Mesin jahit, benang, dan gunting mutlak dimiliki bagi yang tidak menggunakanjasa penjahit luar.

Alat tulis dan penggaris
Digunakan untuk mengukur lembaran daun dan membentuk pola yang .akan dikerjakan.

Kuas
Digunakan untuk mengoleskan lem putih, resin, vernish, dan untuk mewarnai lembaran daun yang akan dibentuk pola. Mudah dibeli di toko buku dan toko bahan bangunan. Miliki beberapa kuas untuk masingmasing bahan dan warna. Gunakan kuas lukis no.12 untuk mengoleskan lem putih.

Setrika
Digunakan untuk merapikan daun yang melengkung atau menggulung ketika daun mengering (setelah diangin-anginkan). Berfungsi juga untuk merapatkan setiap sambungan helaian daun dalarn bentuk lembaran.

Lem panas/tembak
Digunakan untuk merekatkan pola-pola yang prosesnya menggunakan lem. Ada beberapa merek dengan harga yang sangat terjangkau berkisar antara Rp5.000 s/d Rp7.000. Lem panas bisa diperoleh di toko bahan bangunan, toko buku, toko peralatan listrik, dan supermarket.

Sikat
Digunakan untuk membersihkan lem putih yang menempel pada bidang yang dipakai sebagai alas saat perekatan lembaran daun. Misalnya pada lantai, daun, kaca, dan triplek.

Tang mata ayam
Digunakan untuk membuat lubang dan memasang mata ayam pada kerajinan yang akan digantungkan atau diberi pengait (seperti cermin gantung). Alat ini bisa dibeli di toko perlengkapan jahit.

Tang jepit

Dipakai untuk menjepit kawat pada pembuatan barang kerajinan yang memerlukan kawat, seperti pembuatan tangkai tiruan.

Jangka
Digunakan untuk pembuatan pola yang berbentuk bulat atau setengah bulatan.

Air bersih

Digunakan untuk membersihkan daun-daun kotor, melarutkan bahan kimia, pemasakan, pernbersihan sisa bahan kimia, dan mencuci peralatan sehabis pakai.

Soda api (natrium hidroksida)

Bahan kimia ini digunakan untuk memasak daun-daun yang akan dipakai. Soda api bisadibeli di toko bahan kimia dan beberapa toko bahan bangunan yang dijual dalam satuan kilogram. Pilih yang berupa serpihan-serpihan padat berwarna putih.

Kaporit
Digunakan untuk memutihkan daun setelah dimasak. Kaporit berbentuk serbuk putih halus, dijual dalam satuan kilogram dan bisa dibeli di toko bahan kimia.

Hypochlorit

Pemutih berupa cairan yang dijual dalam satuan kilogram, dijual di toko-toko bahan kimia.Larutan berwarna bening ini dipakai untuk memutihkan daun. Dijual dalam satuan

Resin
Cairan kental ini digunakan untuk mengeraskan daun dan memberi kesan plastik. Tersedia di toko bahan kimia, pilih yang berwarna bening dan bermutu baik. Ketika membeli resin harus berikut katalisnya yang dijual terpisah. Selain di toko bahan kimia, resin termasuk katalisnya bisa diperoleh di beberapa toko bahan bangunan, biasanya dikemas dalam botol.

Vernish
Cairan pelapis untuk memberi kesan mengilap pada hasil akhir. Tersedia di toko bahan bangunan. Sebaiknya pilih vernish yang bermutu baik.

Pewarna

Bila Anda menginginkan hasil yang daunnya beraneka warna, beberapa jenis pewarna bisa Anda pilih. Seperti poster color, wantex (pewarna kain), cat sablon, dan cat semprot kaleng.

Thinner
Banyak tersedia di toko cat dan bahan bangunan. Cairan ini dipakai untuk mengencerkan vernish jika terlalu kental, mencuci Was dan tangan yang terkena resin, serta membersihkan bercak-bercak cat semprot yang mengotori dinding atau lantai.

Kancing rekat
Digunakan sebagai penutup pada pembuatan dompet dan tas tangan. Mudah diperoleh di toko perlengkapan jahit dan beberapa toko buku.

Daun resleting
Mudah diperoleh di toko perlengkapan jahit dan toko bahan tas, dapat dibeli dalam satuan meter. Gunakan daun resleting no.5 untuk pernbuatan tas. Ingat, beli kepala resleting dengan ukuran yang sama dengan daun resleting.

Pernak-pernik

Ragam pernak-pernik mudah diperoleh di toko perlengkapanjahit dan beberapa toko buku. Padu-padankan pernak-pernik yang sesuai dengan karya yang dibuat.

Cermin

Mudah diperoleh di toko bahan bangunan dan toko kaca. Untuk bentuk bulat, sebelum membeli sebaiknya membuat pola terlebih dahulu pada selembar kertas tebal, lalu gunting sesuai dengan ukuran yang diinginkan.

Cincin tali tas
Banyak dijual di toko perlengkapan bahan tas dan beberapa toko peralatan jahit. Tersedia bentuk logam dan plastik, digunakan untuk penyambung bagian utama tas dengan tali atau pegangat! tas.

Mata ayam
Berupa bulatan dengan berbagai ukuran, terbuat dari logarn tembaga, kuningan, alumunium, dan besi. Mudah diperoleh hampir di semua toko perlengkapan jahit.

Busa ati
Bahan ini banyak digunakan sebagai alas sandal dan sepatu,juga bisa dipakai sebagai lapisan dalam tas. Bisa dibeli di toko perlengkapan tas, sepatu, dan beberapa toko perlengkapan jahit dalam satuan lembaran.

Plastik mika
Digunakan sebagai lapisan luar tas, terutama pada pernbuatan dengan cara penjahitan dibalik, tujuannya untuk mencegah kerusakan. Mika bisa dibeli di toko plastik.

Pemasakan/Perebusan

Daun-daun mangga tua yang berserakan, apalagi yang benar-benar kering tidak bisa dibentuk karena mudah robek dan mudah patah di bagian tulang tengah daunnya. Supaya bisa dibentuk, harus dimasak dengan bantuan sedikit bahan kimia (untuk menghilangkan zat hijau daun yang tersisa). Langkah-langkahnya sebagai berikut :
1. Masukkan air bersih beberapa gayung ke dalam panci, tambahkan soda api. Setiap satu gayung air, masukkan dua sendok makan soda api.
2. Aduk memakai sendok sebentar, lalu masukkan kumpulan daun kering. Masukkan daun dengan cara ditekuk mengikuti bentuk panci agar memuat daun lebih banyak.
3. Masak di atas api kompor dengan nyala sedang. Perlahan air rebusan berubah warna menjadi kecokelatan. Tenggelamkan daun yang mengambang memakai sendok. Masak sampai air mendidih sambil sesekali menenggelamkan daun yang tidak terendam. Kerjakan secara hati-hati agar daun tidak sobek.
4. Angkat panci setelah daun layu dan berubah warna menjadi cokelat pekat. Biarkan rebusan daun sampai dingin.
Pengerjaan Dasar
Sebelum membuat pola yang diinginkan, beberapa tahap dasar yang harus dikerjakan sebagai berikut.
1. Rebus daun dengan larutan soda api, angkat, dan biarkan hingga dingin
2. Rendam dalam air bersih lalu rendam lagi dalam larutan kaporit.
3. Cuci bersih kotoran yang masih melekat atau serbuk kaporit yang menempel pada daun.
4. Rendam dalam larutan hypochlorit sompai berwarnaputih bersih.
5. Rendam dalam air bersih untuk menghilangkan laruton hypochlorit pada daun. Angin-anginkan sampai kering.
6. Susun daun membentuk lembaran sesuai kebutuhan

Pemutihan

Ada tiga bahan kimia yang digunakan dalam pemutihan, Anda boleh memilih salah satu atau ketiganya. Langkah-langkahnya sebagai berikut.
1. Buang rebusan air hasil pemasakan daun.
2. Siapkan air bersih dalam baskom atau ember.
3. Masukkan lembaran daun ke dalam ember berisi air bersih. Diamkan selama 30-60 menit agar cairan.bekas rebusan yang terasa licin pada daun larut bersama air bersih.
4. Buang air rendaman yang berwarna cokelat, ulangi sekali lagi. Bila perlu, rendam sampai bersih karena semakin bersih akan mempercepat jalannya pemutihan.
5. Siapkan wadah berisi air bersih, tambahkan serbuk kaporit. Perbandingannya, setiap 2 gayung air ditambah 1 sendok makan serbuk kaporit. Aduk sampai larut.
6. Masukkan daun ke dalam larutan kaporit sampai benar-benar terendam. Lamanya pemutihan 6-12jam.
Dari perendaman kaporit bisa langsung dibersihkan untuk selanjutnya menuju tahap pengeringan atau direndam ke dalam larutan pernutih lainnya (H 2 0 2 atau hypochlorit). Lama perendaman 2-10jam.
Masing-masing hasil pemutihan dari ketiga bahan pemutih sebagai berikut.
• Kaporit, menghasilkan warna putih kecokelatan sampai putih dengan tulang tengah daun berwarna tetap cokelat hingga putih.
• Larutan H2O2 berubah menjadi putih kekuningan termasuk tulang tengah daunnya.
• Dari kaporit ke hypochlorit menghasilkan warna putih bersih.
Pemutihan bisa dilakukan langsung dengan hypochlorit atau H2O2 tetapi sebaiknya diberi kaporit terlebih dahulu untuk menghemat pemakaian bahan pemutih cair. Berikut perbandingannya:
Air dan hypochlorit : 4 - 6: 1
Air dan H2O2 : 4 - 6: 1
Perlu diperhatikan, ketika merendam dengan serbuk kaporit sebaiknya bersihkan terlebih dahulu sebelum direndam ke pemutih lain. Hasil dari penggunaan lebih dari satu pemutih adalah daun lebih lemas. Sebagai catatan, penulis hanya menggunakan satu._pemutih saja, yaitu serbuk kaporit.

Pengerjaan Dasar

Tahap-tahap pembuatan kerajinan,dari daun mangga sebagai berikut.
Pengumpulan Daun

Hal-hal yang harus diperhatikan sebagai berikut :
1. Hanya menggunakan daun yang berguguran di tanah.
2. Pilihlah daun yang benar-benar kering, ditandai dengan warna kuning sampai cokelat tua.
3. Pilihlah daun yang masih bagus, tidak sobek, atau berlubang di bagian tengah dan pinggirannya.
4. Kumpulkan daun sebanyak yang anda butuhkan.

Pembersihan Awal

Daun-daun yang dikumpulkan sebaiknya tidak langsung diolah, bersihkan dahulu dengan cara berikut.
1. Pisahkan daun menjadi dua bagian, yang bersih dan yang kotor.
2. Rendam kumpulan daun kotor dalam ember berisi air bersih beberapa saat agar kotoran yang melekat mudah dibersihkan.
3. Bersihkan lembaran daun kotor dari tanah dan noda-noda hitam yang melekat memakai ibu jari tangan. Pembersihan ini penting karena ketika tahap pemutihan, noda-noda akan terlihat jelas dan lebih sulit dibersihkan.
4. Setelah dibersihkan, daun bisa langsung dimasak atau digunting untuk membuang tulang tengah daun. Langkah ini tergantung pada barang yang akan dibuat.

Pembersihan Akhir
Setelah perendaman dengan larutan kaporit, daun harus dibersihkan sekali lagi agar hasilnya lebih bagus. Noda-noda hitam yang terlewat pada pembersihan sebelum perebusan akan terlihat. Langkah-langkahnya sebagai berikut.
1. Siapkan dua wadah berisi air bersih.
2. Ambil satu helai daun dari rendaman kaporit, celupkan ke dalam salah satu wadah air bersih untuk melepas serbuk kaporit yang menempel.
3. Masukkan ke dalam wadah berisi air bersih berikutnya sambil membersihkan noda-noda hitam dan serbuk kaporit yang masih melekat pada semua bagian daun mangga dengan memakai ibujari dan telunjuk. Lakukan hingga helaian daun tidak terasa licin, hati-hati jangan sampai merobek daun.
4. Ulangi langkah 2 dan 3 pada semua helai daun.
5. Pembersihan atau tepatnya perendaman dengan air bersih juga harus dilakukan setelah pernutihan menggunakan pemutih cair. Caranya, masukkan helai demi helai daun ke dalam air bersih, diarnkan beberapa saat sekitar 5-10 menit agar cairan kimia yang melekat larut, lalu buang airnya.

Pengeringan
Pengeringan sebaiknya dengan cara diangin-anginkan saja,jangan terkena sinar matahari secara langsung. Langkah-langkahnya sebagai berikut.
1. Letakkan setiap helai daun pada permukaan yang cukup luas dan bersih selama sekitar 2 jam.
2. Daun yang mengering bentuknya akan terlihat menggulung atau melengkung.
3. Setrika daun yang menggulung supaya rapi, sebaiknya disetrika pada satu permukaan saja (bagian atas).
4. Pengeringan bisa dilakukan pada malam hari supaya helaian daun

Perekatan dan Pelapisan Luar
Helaian daun disusun dan direkatkan satu sama lain memakai lem putih hingga membentuk lembaran yang nantinya bisa dipola dan digunting sesuai keinginan. Langkah-langkahnya sebagai berikut.
1. Pilih helaian daun yang ukuran panjangnya sama.
2. Baluri sebagian lembaran daun dengan lem putih mernakai kuas lukis no.12.
3. Ambil selembar daun lalu rekatkan satu sama lain.
4. Kerjakan untuk daun-daun berikutnya sehingga membentuk sebuah lembaran dengan tampilan seragam. Semua permukaan bagian atas daun menghadap ke arah Anda.
5. Diamkan lembaran sampai lemnya benar-benar kering.
6. Setrika lembaran dengan cara ditekan, bukan digosok, supaya setiap sambungan rapat dan lembaran menjadi rapi.
7. Gunting setiap sisi lembaran hingga membentuk persegi yang rapi pada masing-masing pinggirannya.
8. Baluri kembali permukaan lembaran daun bagian atas dengan lem putih agar lembaran daun menjadi kuat dan lentur.
9. Diamkan lembaran sampai lemnya benar-benar kering dan setrika kembali (dengan cara ditekan-tekan). Lembaran siap dipola.

Pewarnaan
Lembaran warna daun hasil pemutihan nampak indah dan guratan tulang daun sangat unik sehingga warna putih polos berkesan alami. Jika Anda suka, lembaran daun bisa diwarnai sesuai dengan selera. Ada beberapa jenis pewarna yang bisa Anda coba. Langkah-langkahnya sebagai berikut.
1. Bila menggunakan cat sablon, campurkan pewarna dengan lem putih sampai tercampur sempurna. Balurkan pada lembaran daun (langkah perekatan no.8).
2. Jika menggunakan pewarna kain (wantex), rebus setelah daun dibersihkan. Biarkan dingin, cuci, lalu keringkan.
Setelah pelapisan dengan lem putih, lembaran polos dan berwarna bisa langsung dibuat pola. Namun, untuk barang yang berpeluang sering dipegang, disarankan dilapisi kembali dengan cat semprot kaleng warna bening agar tahan air.
Daun mangga kering yang dikumpulkan tersebut terlebih dahulu dibersihkan. Daun kering tersebut kemudian direbus bersama campuran zat kimia untuk menghilangkan zat klorofil dan agar tidak mudah robek. Setelah satu hingga dua jam perebusan, daun-daun tersebut diangin-anginkan dan disetrika. “Kemudian daun-daun tersebut direkatkan dengan lem kayu sesuai dengan pola produk yang ingin dihasilkan. Setelah itu dilapisi lem lagi,” ujar Doni seorang mahasiswa Unpad Bandung. Download Kreasi dari Daun Mangga Klik Disini Jika download tidak berjalan otomatis copy link ini ke URL : http://www.ziddu.com/download/8795760/KreasidariDaunMangga.pdf.html